Senin, 04 Juli 2011

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT ?

        



    Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi denganmerawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran,menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur.Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitujauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

        Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa apa saja yang dia alami seharian.Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.



   Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu , semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.........bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya”sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.“Anak-anakku ......... Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini.Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang,kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.”Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka pun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.



     Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa.disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir distudio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.


disitulah pak Suyatno bercerita:


***Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu,tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintaisaya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untukmencintainya apa adanya, sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit ***





Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 301-303. ISBN 978-6028-686-938.

Minggu, 19 Juni 2011

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN



      Suatu ketika, di tepian telaga kelihatan seorang pemuda sedang duduk termenung. Tatapan matanya kosong,menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di laluinya, namun tidak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suarayang menyapanya.“Sedang apa kau di sini wahai anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang lelaki tua.

   “Apa yang kau risaukan..?”Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berbatu-batu jarak yang ku tempuh untuk mencari kebahagiaan,namun tak juga ku temukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melalui gunung dan lembah, tapi tidak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harusmencarinya? Bilakah akan ku temukan rasa itu?”Lelaki tua itu duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Dipandangnya wajah lelah di depannya. Lalu,dia mulai berkata, “Di depan sana, ada sebuah taman.

 Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku.”Mereka berpandangan.“Ya... tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu,”Pak Tua mengulangi kalimatnya lagi.Perlahan.... pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah,taman. Tidak berapa lama, ditemuinya taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang sedang mekar.Maka tidak heranlah, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Dari kejauhan Pak Tua melihat, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

       Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-ngendap, ditujunya sebuah sasaran.






 Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. 





Dia tidak ingin kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Dia gagal. Dia mulai berlari tak beraturan.





Di terjangnya sana-sini. Dirempohnya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. 





Gerakannya semakin liar.Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu kupu yang dapat ditangkap.






 Si pemuda mulai kelelahan. Nafasnya semakin kencang, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. 






   Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah.”Tampak Pak Tua yang berjalan perlahan. Ada sekumpulan kupu kupu yang berterbangan di sisi kanan dan kiri Pak Tua. Merekaterbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari danmenerjang? Merempoh-rempoh tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Pak Tua menatap pemuda itu.“Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu.Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu. 


  ”“Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemanamana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.


Pak Tua mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu- kupu yang hinggap di hujung jari.






 Terlihat kepak-kepak sayap kupu- kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yangmengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.


        Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, merempoh sana-sini,atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. 


      Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, sepertimenangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahawa kebahagiaan tidak boleh di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan.


       Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalaharoma dari udara itu. Kita belajar bahawa bahagia itu memangada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pulakebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.


      Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasaitu menetap, dan abadi dalam hati kita.


      Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. 


     Temukan lah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada disekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita,namun kita tidak pernah memperdulikannya. Mungkin juga,bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlaluacuh untuk menikmatinya.







Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 292-295. ISBN 978-6028-686-938. 

Jumat, 17 Juni 2011

Tiga Pertanyaan


Ada seorang pemuda yang mencari seorang guru agama, pemuka agama atau siapapun yang bisa menjawab tiga pertanyaannya. Akhirnya sang pemuda itu menemukan seorang bijaksana.



Pemuda (P) : Anda siapa? Bisakah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Bijaksana (B) : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan 
menjawab pertanyaan anda.

P : Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
B : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
P : Saya punya tiga buah pertanyaan.





1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya.
2. Apakah yang dinamakan takdir?




3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?










Tiba-tiba sang orang bijaksana tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.



P (sambil menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya?
B : Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah pertanyaan yang Anda ajukan

P : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
B : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.
B : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
P : Saya tidak bisa.
B : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan
keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudNya
B : Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
B : Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
B : Itulah yang dinamakan Takdir.
B : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
P : Kulit.
B : Terbuat dari apa pipi anda?
P : Kulit.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit
B : Walaupun setan dan neraka sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat menyakitkan untuk setan.












Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 342-343. ISBN 978-6028-686-938.

Jumat, 10 Juni 2011

...Toko SUAMI...




Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di
kota New York dimana wanita dapat memilih suami.


Diantara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk
terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main
untuk masuk toko tersebut. 
“Kamu hanya dapat mengunjungi
toko ini SATU KALI” 
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana
setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami.
Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki
tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu
dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke
lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai
sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko...
Lalu, seorang wanita
pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari suami..



Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 1: Lelaki di lantai
ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan
Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini: Lantai 2: Lelaki di lantai
ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil
Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 3: Lelaki di lantai
ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan
cakep banget.
“Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan
Di Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada
Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu
pekerjaan rumah.
“Ya ampun !” Dia berseru, “Aku hampir tak percaya”


Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini:
Di Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,
senang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan
rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah
kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:
Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak
ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk
wanita yang tidak pernah puas.

 
Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika
keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 288-289. ISBN 978-6028-686-938.

Selasa, 07 Juni 2011

"Cintamu Untuk Siapa......?????????


Sebenarnya ini salah siapa....???????
       Aku hanya seorang seorang wanita yang tak mungkin mengutarakan perasaan ku pada seorang lelaki. Tapi setelah ku tau status mu tidak sendiri lagi aku kecewa, aku sakit hati. Kenapa....??? Kenapa ini harus terjadi,,,siapa wanita itu,,,????? Kenapa kau memilihnya....?????
Apa kamu tak merasakan apa yang aku rasakan padamu, aku mencintaimu,,,aku menyayangimu.....Aku sungguh kecewa padamu.....Apa aku benar-benar tak pantas untukmu...harusnya kau tau, aku rela meninggalkan seseorang yang mencintaiku hanya demi kamu. Apa ini yang tengah dia yang mencintaiku rasakan,,,,,sakit hati atas sikapku...?????


      Tuhan Aku ingin dia mencintaiku seperti aku mencintainya, aku ingin dia menjadi milikku,, bukakan hatinya untuk ku sebelum aku pergi dan mungkin takkan kembali lagi, ijinkan aku bahagia bersamanya. merasakan indahnya dunia yang aku lalui bersamanya, sungguh aku sangat mengharapkannya menemaniku, mewarnai hidupku, bercanda dan tertawa maupun bersedih aku ingin bersamanya......

    Aku Memohon pada_Mu ya  Tuhan........
   Ijinkan aku bersamanya sebelum aku kembali ke Sumatera, aku ingin dia, aku ingin bersamanya,,,sungguh sakit,,sungguh kecewa perasaan ini saat ku tau dia tak sendiri lagi.....
Andai waktu bisa diputar, aku tak ingin berada disini, mengenalnya, bersamanya, tapi tak bisa memilikinya. Pertemuan ini hanya membuatku sakit hati,.....................



"Apa kau tak tau, sikapmu dan apa yang kau lakukan telah membuatku sakit hati...???? Apa kau tak bisa merasakan....?????? Apa kau tak bisa membedakan sikap seorang sahabat dengan sikap seseorang yang mencintaimu.....????? Atau memang benar-benar kau tak memiliki perasaan yang sama dengan ku...?????



    Jika memang kau tak mencintaiku, jangan kau tunjukkan padaku sikapmu yang seolah-olah memiliki perasaan yang sama padaku . Sejak awal melihatmu, aku memang telah merasakan adanya getaran dihati,,,tlah ku coba untuk mengabaikan rasa ini,,,tapi semakin aku mengabaikan rasa ini, semakin ku coba melupakanmu, menghapus bayangmu, aku tak bisa, aku sungguh tak bisa,,,,,Hanya kamu,,,kamu,,,dan kamuuuuuuu yang selalu muncul dibenakku, mungkin kau apa adanya, tapi kau sangat berarti bagiku...............................



  Aku tau kau memang selalu acuh padaku, sikap mu tak pernah menunjukkan kau memiliki perasaan padaku....Sekali saja kau membuatku hatiku bahagia saat bersamamu, ijinkan aku tertawa, bercanda dan menangis disampingmu. Aku ingin kejelasan bagaimana perasaanmu padaku..........????????

  "Kau terlalu asyik dengan duniamu.......", sampai-sampai kau tak menyadari ada aku disampingmu, begitu mudahnya kau menganggap aku tak pernah ada di sampingmu,,,ku akui sejauh ini aku masih mengharapkanmu, Tapi............... Mulai detik ini kan ku ucapkan padamu "Terima Kasih" kau pernah mengisi hatiku, dan hariku walau itu hanya sebatas sahabat.....



     Moga kau tak akan pernah menyadari akan hal ini, aku tak ingin kau tau perasaan ku ini. Karena kurasa lebih menyakitkan apabila kau membalas rasaku disaat aku telah menjadi milik orang lain. Ku harap kau mengerti dan jangan pernah membalas perasaanku, karena sudah terlalu sakit hati ini melihat sikapmu padaku. semakin aku mendekatimu, semakin kau mengacuhkanku, kau anggap aku tak ada. Cara mu memandangku, sikapmu padaku, cara bicaramu, itu sudah cukup membuktikan padaku bahwa Aku Tak Pernah Ada DiHatimu................


   
  Tolong jangan pernah memberikan sedikitpun perhatianmu padaku, biarlah kan ku buang sejauh mungkin rasa ini, "perlahan tapi pasti" ,,,,,,,ya,,aku akan melupakanmu, itulah yang terbaik untuk ku dan untukmu.....





"Maaf Ku Telah Mencintaimu,,,,,,,,???

"Aku Tak Akan Mengharapkamu Lagi"





Aku Yakin TUHAN akan memberikan Yang Terbaik Untukku.............
   





 ):( Chreez_na ):( ________ 07 Juni 2011 _________ ):(
16 : 36

Rabu, 01 Juni 2011

Keluarga Bahagia Di Tengah Samudra

  


   Hidup berumah tangga bagaikan mengarungi bahtera di tengah samudera luas. Lautan kehidupan seperti tak bertepi, dan medan hamparan kehidupan sering tiba-tiba berubah. Memasuki lembaran baru hidup berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu kebahagiaan. Segala macam harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga keluarga. Akan tetapi setelah periode impian indah terlampaui orang harus menghadapi realita kehidupan. Sunnah kehidupan ternyata adalah problem Kehidupan kita, tak terkecuali dalam lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang masa. Tidak ada seorangpun yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi ukuran keberhasilan hidup justeru terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu’min mufattanun tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Allah, siapa diantara ,mereka yang berfikir positif, sehingga dari problem itu justeru lahir nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a ta kum (Q/6:165)

   Menurut hadis Nabi, menemukan pasangan yang cocok (saleh/salihah) dalam hidup berumah tangga berarti sudah meraih separoh urusan agama, separoh yang lain tersebar di berbagai bidang kehidupan. Hadis ini mengambarkan bahwa rumah tangga itu serius dan strategis. Kekeliruan orientasi, keliru jalan masuk, keliru persepsi, keliru problem solving dalam hidup rumah tangga akan membawa implikasi yang sangat luas. Oleh karena itu problem hidup berumah tanga adalah problem sepanjang zaman, dari sejak problem penyesuaian diri, problem aktualisasi diri, nanti meluas ke problem anak, problem mantu, cucu dan bahkan tak jarang suami isteri yang sudah berusia di atas 60 masih juga disibukkan oleh problem komunikasi suami isteri, hingga kakek dan nenek itu bisa meraih kebahagiaan.

   Makna bahagia di dalam keluarga berkaitan dengan tingkat problem yang dihadapinya. Kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan keluarga bukan ketika akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan hidup susah, meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan kisah keberhasilan.

 Kebahagiaan di dalam keluarga hadir setelah kita mampu mengatasi problem sepanjang kehidupan rumah tangga. 

Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga:
(1) isteri/suami yang setia 
(2) anak-anak yang berbakti 
(3) lingkungan sosial yang sehat dan 
(4) rizkinya dekat.

 Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga, anak-anak yang berbakti menjadikannya sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa khawatir dan rizki yang dekat merangsang optimisme, idealisme dan kegigihan.


Sumber : http://www.facebook.com/pages/Mukjizat-Sholat-Dan-Doa/246320798295
Pernah dimuat Oleh : Bapak M. Agus Syafii : http://agussyafii.blogspot.com/

Putus Asa Racun Kehidupan


Jika seseorang merasa bahwa dirinya mendapat tekanan hingga batas ketidaksanggupan untuk dipikulnya maka semua yang ada dihadapannya menjadi hampa, ia merasa yang dilakukan tidak membawa perubahan apapun sehingga ia berputus asa. Putus asa merupakan sifat buruk pada diri kita jika ditimpa musibah menjadi kehilangan gairah untuk hidup, kehilangan gairah untuk bekerja & beraktifitas sehari-hari, timbul perasaan sedih, merasa bersalah, lambat berpikir, menurunnya daya tahan tubuh, mudah jatuh sakit karena yang ada hanyalah pandangan kosong seolah terhimpit oleh beban yang sangat berat berada dipundaknya sehingga putus asa meracuni kehidupan kita. 'Manusia tidak jemu memohon kebaikan dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa dan putus harapan.' QS. Fushilat : 49). 

PENYEBAB PUTUS ASA
Ada dua faktor yang menyebabkan keputusasaan.

 Faktor Pertama, tekanan eksternal. tekanan eksternal adalah tantangan dan faktor utama yang mampu memancing respon dari dalam diri seseorang. Peristiwa-peristiwa konflik keluarga, kehilangan orang yang dicintai, jatuh sakit, kehilangan pekerjaan, Itulah tekanan eksternal yang mampu memicu kondisi diri kita menjadi kecewa, marah dan putus asa.
 Faktor Kedua yang mengakibatkan depresi dan menjadi putus asa, kecewa, kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan adalah bersumber di dalam diri kita sendiri yaitu lemahnya ketahanan diri.

Setiap peristiwa apapun yang menimpa kita belum tentu mengakibatkan respon yang sama karena ketahanan diri dan kualitas kesehatan jiwa masing2 individu berbeda. Bagi orang yang memiliki ketahanan diri yang kuat maka kekecewaan, marah dan putus asa dapat ditunda dalam waktu yang cukup lama sedangkan bagi mereka yang lemah ketahanan dirinya maka kekecewaan, marah dan putus asa begitu mudah muncul. Persoalan depresi & keputusasaan sering terjadi dalam diri seorang maupun kehidupan berumah tangga yang cenderung pragmatis, materialistik dan jauh dari tuntunan agama. Ketika harta, jabatan dan status sosial lebih menjadi tujuan utama dalam hidup, mengejar dan berjuang habis-habisan bersamaan keimanan kepada Allah sangatlah tipis maka lebih berpotensi mudah putus asa. Putus asa bagaikan racun yang paling keras menggerogoti sekujur tubuh dan merusak seluruh organ dalam. Penderitaan yang ditimbulkan rasa putus asa akan berkelanjutan sampai wajah anda menimbulkan kerutan-kerutan ketuaan. Sampai orang-orang disekitar kita hampir tidak mengenali anda dengan baik. wajah anda nampak lebih tua.

CARA MENGATASI PUTUS ASA

Lantas bagaimana cara bisa mengatasi tekanan eksternal kehidupan & menguatkan ketahanan diri? ...
Depresi maupun tekanan eksternal dalam kehidupan sehari-hari bisa memberikan dampak positif bagi anda maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

 Pertama, Berhentilah untuk mengeluh, lakukanlah apa yang anda bisa lakukan. 
Kedua, Bersyukurlah dengan kehidupan anda yang sekarang. 
Ketiga, Memohonlah pertolongan Allah dengan sholat dan sabar maka hal itu memberikan kekuatan ketahanan diri anda sehingga seberat apapun tekanan eksternal, kegagalan dalam usaha, bisnis, karier dan perjuangan hidup, tidak akan membuat anda putus asa dalam mengarungi kehidupan. 

Ketaqwaan anda kepada Allah yang menjadikan anda kuat dalam menghadapi tekanan kehidupan sebesar apapun sehingga bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. 'Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya.' (QS. Ath-Thalaq : 4).





Artikel Ini Pernah Dimuat Oleh Bapak M. Agus Safii